Pengendalian banjir di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara merupakan program prioritas yang dirancang untuk mengatasi tantangan geografis pesisir, seperti kenaikan permukaan air laut (rob), penurunan muka tanah (land subsidence), dan curah hujan tinggi. Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Utara menerapkan sistem pengendalian banjir terpadu berbasis polder yang menggabungkan infrastruktur fisik (polder, waduk, tanggul pesisir, dan jaringan pompa) dengan kesiapsiagaan operasional lapangan (Pasukan Biru dan Posko Siaga Banjir).

Pilar Utama Pengendalian Banjir

1. Pengelolaan Sistem Polder dan Rumah Pompa

Operasionalisasi Rumah Pompa Stasioner: Memastikan seluruh unit pompa stasioner di berbagai titik polder (seperti Polder Pluit, Ancol, Sunter, dan Sentiong) beroperasi secara optimal untuk memompa air dari saluran utama menuju laut atau waduk penampung.

Mobilisasi Pompa Mobiler: Menyiagakan dan menempatkan unit pompa bergerak (mobile pump) di lokasi-lokasi rawan genangan yang belum terjangkau sistem polder stasioner atau saat terjadi lonjakan debit air darurat.

2. Pengerukan Sedimentasi dan Pengurasan Saluran (Grebek Lumpur)

Pengerukan Waduk dan Sungai: Melakukan pengerukan sedimentasi lumpur secara berkala pada waduk, polder, dan sungai utama menggunakan alat berat (excavator amphibious) untuk mengembalikan kapasitas tampung air (retention capacity).

Pembersihan Saluran Mikro dan Makro: Pengurasan lumpur dan pembersihan sampah pelampung pada jaringan saluran drainase di pemukiman dan jalan protokol secara rutin oleh Pasukan Biru.

3. Penguatan Proteksi Pesisir (Penanganan Banjir Rob)

Pembangunan dan Pemeliharaan Tanggul Pesisir: Membangun serta memperkuat struktur tanggul pantai dan tanggul muara untuk menahan gelombang pasang air laut (rob).

Pengoperasian Pintu Air Pesisir: Mengatur dan menutup pintu-pintu air secara presisi saat pasang laut terjadi untuk mencegah air laut meluap (backwater) ke kawasan pemukiman warga.

4. Kesiapsiagaan Operasional dan Posko Siaga Banjir

Monitoring Real-Time & Peringatan Dini: Pemantauan TMA (Tinggi Muka Air) di pintu air, waduk, serta pemantauan curah hujan secara kontinu 24/7.

Disagregasi Personel & Alat Berat: Penyiapan Pasukan Biru, petugas operator rumah pompa (CT/PJLP), serta armada kendaraan operasional (truck crane, derek, dan perahu karet) yang siap diturunkan dengan cepat saat kondisi darurat.